KOTA LOENPIA SANG PEMILIK SEJARAH (Bag 2 )
AKTIVITAS HARI KE DUA , 21 APRIL 2018
Posisi tidur yang dekat jendela memudahkan saya melihat
suasana luar samping hotel ketika terbangun , saat menoleh jam tangan yang tergeletak di meja kamar waktu sudah menunjukan pukul 05.00 saatnya bersiap-siap mengenakan seragam hari ke2.
Kamar saya berada di lantai 2 , hotel yang telah berhasil
membuat mata saya tak berkedip saat pertamakali menginjak lobby memiliki gaya
design hotel trendi dengan warna khasnya
hitam,abu-abu dan kuning menjadikan penampilan setiap ruangan unik
dan berbeda dari hotel
–hotel yang pernah saya jumpai.
Lokasi Rooms Inc
berjarak sekitar 100 meter dari bangunan Lawang Sewu sehingga jika bus wisata
kami keluar dari jalan hotel bangunan Lawang Sewu terlihat jelas .Posisi
Hotel Room Inc tepatnya di atas DP Mall jadi untuk masuk ke hotel
bisa melalui beberapa pintu yang menghubungkan antara Mall dan Hotel.
Bangunan Lawang Sewu tampak belakang
Pukul 07.30 pagi
kamipun harus sudah berkumpul dilobby hotel untuk berangkat ke Sentra Bandeng
Tambakrejo dan sarapan pagi saya dimulai pukul 07.00 .
Selera sarapan pagi waktu itu adalah bubur ayam, menu yang sudah dicari-cari sejak hari pertama waktu tim jelazah gizi berkumpul di Foodcourt Pujasera Terminal 1 C Bandara Soekarno Hatta, namun buryam tidak saya temukan malahan tergoda dengan hot chicken ramen Jepang Restauran itu
Kampung Sentra Bandeng Kelurahan Tambakrejo
Dok. Jelajah Gizi
Tim jelajah gizi tiba di kawasan kurang lebih
pukul 9.00 lewat, aroma amis ikan sudah tercium oleh kami ketika masuk ke kampung sentra bandeng kelurahan Tambakrejo kecamatan Gamyasari
yang terkenal sebagai kampung tematik itu.
Kampung tematik adalah kampung yang
berdasarkan atas potensi lokal wilayahnya. Tambakrejo ini sangat terkenal dengan potensi olahan ikan bandeng sehingga kurang lebih ada 5 usaha dagang ada di area
tersebut. Salah satu usaha dagang (UD) yang tim jelajah gizi kunjungi adalah milik Ibu Hartini yaitu UD Mina Makmur yang mengolah selain bandeng presto ada juga bandeng otak-otak dan bandeng pepes
namun ketika kami masuk ke outlet UD Mina Makmur ada beberapa aneka makanan cemilan juga yang unik di rak etalase seperti kripik pegagan,sambal kemasan, tahu bakso dan masih banyak lagi.
Dalam kunjungan tim jelajah gizi kami diajak Ibu
Hartini untuk melihat proses pengolahan dari cara membersihkan ikan,memberikan
bumbu,proses memasak hingga proses pengepakan ikan.
Dok. Jelajah Gizi
Ibu Hartini cukup dikenal
warga pasalnya beliaulah yang mengajak warga setempat khususnya kaum
ibu-ibu membuat kelompok kecil olahan ikan bandeng ilmu tersebut ia dapatkan
dari dinas perikanan tak heran ketika masuk di ruangan pertama produksinya banyak terpampang piagam-piagam penghargaan ibu yang memiliki nama lengkap Ibu Hartini Darmono.
Dok. Jelajah Gizi
Saat ini UD Mina Makmur sudah memproduksi ikan 400-500 kg /hari hasil olahannya selain dipasarkan di Indonesia juga didistribusikan ke luar negeri.
Siang itu
matahari sangat terik aktivitas berikutnya kami mengunjungi Soto Bangkong untuk makan siang menu yang sangat tepat untuk cuaca hari itu. Berbagai
soto yang sudah pernah saya rasakan seperti Soto Ayam Ambengan, Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto
Tegal, Soto Betawi, dan beberapa soto lagi namun soto yang satu ini belum
pernah saya cicipi. Soto Bangkong tidak hanya ada di Ruko Bangkong
Plaza Block A/1 Jalan Brigjen Katamso Semarang tapi juga ada cabangnya dibeberapa kota diluar Semarang salah satunya daerah Kelapa Gading dekat tempat tinggal saya di Jakarta semua usaha itu dikelola oleh saudara-saudaranya sendiri.
Bus wisata kami
telah selesai parkir tidak jauh dari rumah makan Soto Bangkong yang legendaries
itu. Soto bangkong diambil dari nama jalan Perempatan Bangkong di Semarang pemilik
awal yang berdiri sejak tahun 1950 itu bernama Bapak H. Soleh Soekarno
beliaulah yang mengawali usaha soto yang dulu dikenal soto Pak Karno .Citra
rasa Soto Bangkong yang gurih dan sedikit manis karena ada unsur kecap yang
ditambahkan dalam racikannya. Menurut Pak Joko anak dari Bapak H.Soleh yang tim
jelajah gizi temui kemarin kecap yang digunakan dalam campuran soto adalah produksi sendiri
bertujuan agar rasa sotonya tidak mudah ditiru orang.
Menu yang di
tawarkan Soto Bangkong akan nampak jelas terpampang dipapan kuning ketika kami memasuki ruangan makannya. Selain Soto Bangkong sebagai produk unggulannya terdapat pula menu garang
asem, ayam goreng dan beberapa menu yang menjadi makanan pendamping disertakan dalam penyajiannya. Menu tersebut telah menjadi ciri khas Soto Bangkong seperti sate tempe yang
terbuat dari tempe yang dibalut tepung ,bergedel ,sate kerang dan sate ayam.
Sedangkan campuran soto tersebut selain kuah yang segar dari kaldu ayam kampung, soun, daun bawang, bawang goreng, garam yang dicampung bawang putih goreng dan potongan kecil ayam kampung. Semua itu terasa nikmat menjadikan saya semakin semangat untuk beraktivitas pada kunjungan berikutnya ke Bangunan Lawang Sewu.
LOENPIA GANG LOMBOKSedangkan campuran soto tersebut selain kuah yang segar dari kaldu ayam kampung, soun, daun bawang, bawang goreng, garam yang dicampung bawang putih goreng dan potongan kecil ayam kampung. Semua itu terasa nikmat menjadikan saya semakin semangat untuk beraktivitas pada kunjungan berikutnya ke Bangunan Lawang Sewu.
Loenpia adalah
makan yang terdiri dari lembaran kulit lembut yang terbuat dari tepung sebagai
kulit yang menutupi isian yang telah ditumis dengan bahan-bahan rebung,udang,telur
dan ikan pihi.
Loenpia Gang Lombok yang sangat terkenal itu menawarkan produk
istimewanya yaitu Loepia basah (tampa digoreng) dan loenpia goreng, kedua sama
lezatnya disantap bersama saus kental dengan campuran bawang putih serta lalap
bawang merah yang masih muda dan daun selada.
Kedai Loenpia yang
berlokasi di Gang Lombok No 11 Semarang dekat Klenteng Tay Kak Sie itu dikelola
oleh Bapak Untung Usodo yang menggantikan ayahnya Bapak Purnomo Usodo. Kedai
yang tidak terlalu luas namun selalu dikunjungi pembeli untuk makan di tempat
atau dibungkus bawa pulang sebagai oleh-oleh para pelancong yang ingin
mencicipi rasa yang tidak pernah berubah dari generasi ke generasi tutur Bapak
Untung.
Pada waktu kami
sampai di Gang Lombok ,kami telah disediakan tenda putih untuk kami duduk dan
mendengarkan penuturan cerita Bapak Untung tentang sejarah Loenpia yang
tersohor itu. Setelah selesai tim panitia Jelajah Gizi mengadakan lomba melipat
loenpia yang tercepat dialah yang menjadi juara. Kebetulan saya adalah salah
satu peserta lomba serunya bukan main karena kehebohan kelompok-kelompok lain
yang memberikan support untuk masing-masing perwakilannya. Alhasil yang
menjadi juara pertama ialah grup harimau dengan gulungannya yang sangat rapih
dan cepat dan sayapun jadi yang kedua hehehe.
Usai kami
mengikuti serangkai acara tiba saatnya kami menikmati loenpia yang telah kami
gulung-gulung tadi sambil menunggu loenpia di goreng kami menikmati es duren
yang penjualnya tidak jauh dari Klenteng .
LAWANG
SEWU
Lawang sewu merupakan bangunan tua yang memiliki banyak pintu berukuran
tinggi dan lebar. Jika dalam bahasa Indonesia lawang sewu diartikan sebagai seribu
pintu tapi sebenarnya hanya memiliki 928
daun pintu.
Dok.Jelajah Gizi
Saat kami masuk di bagian pintu loket terdengar musik dalam bahasa
jawa yang dimainkan oleh beberapa orang dibawah pohon tepatnya di tengah
lapangan yang cukup luas walau terdengar lirik yang samar- samar namun musik tersebut
sangat menyatu dengan bangunan kuno yang
sedang dinikmati kemegahannya.
Setelah melewati pintu loket tim jelajah gizi
dibagi menjadi 2 grup untuk dibawa masing-masing pemandu wisata lawang sewu. Di
setiap arah si pemandu berjalan kami selalu ikuti, menurut bapak pemandu wisata
dulu lawang sewu difungsikan untuk kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik
Indonesia (DKARI) yang sekarang dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia jadi
ketika kami menelusuri beberapa ruang maka akan ditemukan beberapa koleksi
dan replikanya kereta api atau patung-patung yang mengenakan seragam kereta api.
Lawang sewu dahulu merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau
NIS yang di bangun selama 3 tahun lamanya pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Lokasi yang
tidak jauh dari tempat menginap kami masih dijalan pemuda juga selalu
dikunjungi wisatawan apalagi disaat hari libur.
Loteng lantai 3 lawang sewu
Bangunan lama sepeninggalan kolonial
Belanda ini memiliki 3 lantai namun lantai yang ke 3 berfungsi sebagai loteng atau ruang insulasi panas yang mengurangi laju
panas matahari langsung. Tangga menuju lantai tiga hanya cukup untuk satu orang
sehingga kami harus lebih hati-hati saat naik turun anak tangga begitu sampai
di lantai 3 akan terlihat suatu ruangan luas yang tidak memiliki sekat dan langsung
deh tim jelajah gizi berfoto-foto cantik di lonteng tersebut.
Sekembalinya kami dari Bangunan yang penuh history kami kembali ke hotel dengan jalan kaki bersama-sama tim Jelazah Gizi lainnya untuk beristirahat karena pukul 18.30 kami harus sudah ada di Rg Half Moon Hotel untuk acara Awarding & Dinner. Di sepanjang jalan pulang ke hotel banyak dijumpai pohon asem dan beberapa teman-teman penasaran dengan rasanya dan meminta Pak Robert untuk memetiknya asem itu heheh seru banget. Menurut Bapak Robertus tour guide kami pohon asam atau bahasa jawa disebut asem merupakan asal usul dari nama kota Semarang ibukota Propinsi Jawa Tengah yang sebelumnya disebut Asemarang yang hingga kini menjadi banyak di temukan di jalan-jalan protokol.
Awarding & Dinner
Ruang
Half Moon lantai 2 sebelah kiri setelah
naik lift Hotel Room Inc pukul 19.00 malam itu satu persatu tim jelajah gizi berdatangan yang akan bersantap malam dan sekaligus pemberian penghargaan
bagi grup yang berhasil mengumpulkan
banyak poin ,Partisipan terbaik dari bloger juga dari media.
Menu Appertizer,main course
hingga dessert yang nyumii telah tersedia di meja depan sebelum kami masuk
ruangan. Acara malam itu cukup seruu banget
karena semua grup diberikan challengenya untuk bernyanyi dan mengikuti game-games yang bikin saya tertawa terus hehehe.

















































Komentar
Posting Komentar